Namaku Rina, 17 tahun, siswi kelas XII yang biasa-biasa saja. Aku tidak pernah menyangka malam itu akan menjadi malam yang paling berkesan dalam hidupku.Semuanya bermula saat aku dan Arka, cowok yang sudah aku sukai sejak kelas X, akhirnya berduaan di rumah kosannya yang sepi.
Orang tuanya sedang ke luar kota. Hujan deras di luar membuat kami terjebak di dalam ruangan kecil yang hanya diterangi lampu meja kuning temaram.“Kamu dingin ya?” tanya Arka sambil mendekat. Suaranya pelan, hampir berbisik. Aku mengangguk pelan. Tubuhku memang menggigil, tapi bukan karena dingin hujan saja.Arka mengambil selimut tebal dan membungkus tubuh kami berdua. Kami duduk berdampingan di sofa kecil. Bahu kami bersentuhan. Aku bisa mencium aroma sabun mandi dari tubuhnya yang segar. Jantungku berdegup semakin kencang.“Rin… aku suka kamu dari dulu,” katanya tiba-tiba. Matanya menatap lurus ke mataku. Aku tidak bisa menghindar. Pipiku terasa panas.Tanpa banyak kata, tangannya menyentuh pipiku dengan lembut. Jari-jarinya hangat. Perlahan dia mendekatkan wajahnya. Napas kami bercampur. Bibirnya menyentuh bibirku dengan sangat pelan, seperti takut aku menghilang.Ciuman pertama itu terasa manis. Lalu semakin dalam. Aku merasakan lidahnya menyentuh lidahku dengan lembut, mencari irama yang pas. Tangan Arka turun ke pinggangku, menarik tubuhku lebih dekat hingga dada kami saling menempel.Aku merasakan panas yang aneh menyebar di tubuhku. Napasku menjadi cepat. Tangan Arka mengusap punggungku naik turun di atas baju tipis yang aku pakai. Setiap sentuhannya membuat bulu kudukku berdiri.“Kalau kamu tidak suka, bilang ya…” bisiknya di telingaku. Suaranya serak, penuh gairah.Aku menggeleng. “Lanjutkan…” jawabku malu-malu.Arka mencium leherku. Bibirnya meninggalkan jejak panas yang membuat aku menggigit bibir menahan desahan kecil. Tangannya perlahan merayap ke bawah bajuku, menyentuh kulit perutku yang halus. Sentuhannya ringan seperti bulu, tapi membakar.
Aku membalas dengan memeluk lehernya lebih erat. Tangan ku menyusup ke rambutnya yang lembut. Kami berdua terengah-engah. Pakaian mulai terasa terlalu panas dan sempit.Dalam imajinasimu, kamu bisa membayangkan bagaimana tangan Arka terus menjelajah dengan penuh kasih sayang, bagaimana napas kami saling berkejaran, dan bagaimana setiap sentuhan membuat tubuh kami semakin menyatu. Malam itu kami belajar tentang tubuh satu sama lain dengan rasa penasaran dan cinta yang besar.Kami tidak buru-buru. Setiap detik terasa lambat dan penuh kenikmatan. Hujan di luar semakin deras, seolah ikut menemani irama detak jantung kami.Saat puncaknya tiba, aku hanya bisa memeluk Arka erat-erat sambil menyebut namanya berulang-ulang. Rasanya seperti meledak menjadi ribuan bintang kecil di dalam tubuhku.Kami berbaring bersama setelahnya, saling berpelukan di bawah selimut. Arka mencium keningku dan berkata, “Ini baru permulaan, Rin.”
Penutup
Gimana? Deg-degan nggak baca ceritanya?
Kalau kamu suka, tinggalkan komentar di bawah: bagian mana yang paling bikin kamu berimajinasi?

0 Ulasan